"BIRADS 4A ini dicurigai Maligna atau ganas, Bu." Kata dokter Denni, Spesialis Bedah Onkologi di RS Kanker Dharmais saat membaca hasil ABVS mammae padaku.

"Apakah ada kemungkinan payudara saya diangkat, Dok?" Tanyaku sedikit takut.

"Jika ganas ada, amannya harus diangkat. Tapi kita akan observasi dulu, ini kan masih pemeriksaan awal" Jawab beliau.

Seketika tangisku pecah sejadi-jadinya. Suami dan dr. Denni memberi pengertian dan menyabarkanku. Mengingatkan bahwa yang terpenting adalah berpikiran positif dan aku harus sehat agar bisa berkumpul dengan keluarga.

"Ibu jangan sedih dulu, kita masih observasi lagi. Setelah ini ibu photo Thorax, USG Abdomen, dan bone scanning, untuk melihat apakah ada penyebaran di area itu. Kalau tidak ada penyebaran, insya Allah ini masih bisa sembuh dan sehat".

Keluar dari ruang dokter pikiranku kosong, semua tercampur aduk. Mulai dari merasa diri serasa tidak menjadi wanita yang utuh, kepercayaan diriku runtuh terlebih di depan suami. 

"Jangan pikirin yang lain selain sehat. Kalo nanti ternyata ganas, walaupun baru stadium 1 pun, abang maunya diangkat aja payudara pida. Daripada nantinya masih ada sisa-sisanya lalu menyebar kemana-mana, malah jadinya terlambat. Abang nggak mau kejadian kayak teman abang yang istrinya kanker payudara. Karena terlambat taunya, dan udah stadium akhir, kanker udah menyebar kemana-mana,  apanya lagi yang mau diangkat kalau udah menyebar?" Terang suamiku sambil memegang tanganku.

Aku masih menangis mendengar nasihat suami. Membayangkan di umur 40 tahun aku harus kehilangan payudara di sebelah kanan.

"Abang nggak malu punya istri kayak pida?" Tanyaku sambil menangis.

"Nggak. Dari pada abang nggak punya pida, mending pida nggak usah punya payudara, asal pida sehat, kita masih bisa sama-sama sampai tua. Yang abang nggak sanggup itu justru memikirkan seandainya pida telat diobati, tau-tau udah menyebar kemana-mana."

dua hari lamanya aku menangis terus, mencoba mengikhlaskan dengan pilihan 'Mastektomi/Pengangkatan payudara".

Namun, kata-kata suami dan dukungan keluarga dan teman membuat aku akhirnya mencoba kuat dan ikhlas seandainya pilihan itu terjadi. 

Bagaimana Awalnya Aku menyadari Adanya Benjolan?

Aku mulai dulu dari tanda-tandanya dan kenapa hasil dari ABVS dan Mammografi menunjukkan indikasi ganas pada benjolan di payudara kananku ya. 

Sekitar tanggal 26 Oktober 2021, aku merasakan "sedikit' sakit di payudara kanan. Lalu aku memeriksa payudara kanan, dan ternyata aku rasakan benjolan yang cukup tegas terasa saat aku pegang. Namun karena saat itu adalah saat-saat menjelang haid, aku sedikit menyimpulkan bahwa sakitnya bisa jadi karena perubahan hormon menjelang menstruasi. 
Benar saja, besoknya aku menstruasi dan sakitnya mulai berkurang. Perlu diketahui, sulit membedakan antara sakit karena adanya tumor dengan sakit payudara saat menjelang menstruasi. Nah disini, seringnya kita lengah, dan tidak terlalu peduli.
Namun, yang bikin aku khawatir adalah benjolan itu tidak menghilang. 

Suami mengajakku untuk langsung memeriksakan ke dokter. Namun, saat aku baca-baca artikel mengenai pemeriksaan benjolan payudara, sebaiknya diperiksa beberapa hari setelah menstruasi selesai. 
Jadi aku menunggu sampai 3-4 hari setelah menstruasi selesai barulah ke dokter. 

Nah, harusnya saat itu aku langsung saja ke dokter bedah umum atau ke dokter bedah onkologi. Namun, karena tidak tahu, aku konsultasi ke dokter obgyn/kandungan di RS Mitra keluarga Depok. Dari sana, dokter membuat rujukan untuk USG Mammae saat itu juga. 

Hasil dari USG Mammae, menunjukkan bahwa ada Kista Kompleks ukuran 1,5 x 1,1 x 1,5 cm.  Aku tanyakan dokter radiologi apa bedanya kista biasa dengan kista kompleks. 
Menurut dokter yang memeriksaku saat itu, kista itu biasanya jinak dan berisi cairan saja. Namun, yang di payudara kananku ini adalah kista yang ber massa (ada isi tumor/padat). Untuk kista kompleks, harus dilakukan observasi lebih lanjut karena bisa mengarah ke ganas.

Tentu, saat itu sudah mulai merasa khawatir. 


Selanjutnya dokter radiologi menyarankan untuk Mammografi.
Berhubung di RS Mitra Keluarga Depok belum punya alat Mammografi, aku konsultasi ke dokter perusahaan tempat suami bekerja (Berhubung pengobatan kami melalui jaminan perusahaan/ Yakes Telkom, jadi aku memilih Rumah Sakit yang memang sudah bekerja sama degan Telkom agar memudahkan seluruh urusan admisnistrasi pembiayaan yang ditanggung perusahaan).

Dokter perusahaan menganjurkan untuk langsung mammografi ke RS Kanker Dharmais Jakarta, dan konsultasi langsung dengan Dokter Bedah Onkologi (Bukan bedah Umum).
Esoknya, aku dan suami langsung ke RSK Dharmais. Di sini aku mau menginformasikan bagi pasien baru, sebaiknya datang pagi-pagi sekali, karena urusan administrasi tutup di siang hari. 

Aku dan suami datang pagi, kemudian di arahkan ke ruang skrinning kaca pasien baru. Tempatnya itu tepat di samping kanan customer care Lobby utama. Di sana ada dokter yang akan menanyakan apa yang kita rasakan. Ya intinya, semua keluhan juga riwayat kesehatan kita. Dari sana, dokter akan langsung membuatkan jadwal janji dengan dokter hari itu juga. 
Aku diarahkan ke DR dr. Denni Joko Purwanto, Sp. B (K) Onk. (Spesialis bedah onkologi). 

Dr. Denni melihat hasil USG Mammae dari RS Mitra Keluarga, kemudian membuat rekomendasi Mammografi untuk memastikan.
Sekitar dua hari kemudian, aku ke radiologi untuk Mammografi di Lantai B (Basement). Hasilnya baru keluar setelah 3 hari kata petugasnya. Namun, esoknya aku ditelfon lagi oleh Radiologi, diminta segara datang ke radiologi untuk Foto tambahan. Petugas menyampaikan bahwa dokter radiologi meminta untuk dilakukan cek tambahan melalui ABVS dan USG mammae. 

Sekedar Informasi ABVS (Automated Breast Volume Scanner ) ini adalah Alat yang dapat merekam gambar jaringan payudara secara tiga dimensi. Data yang telah terekam dapat dianalisais berulang-ulang. Gambar 3D itu dapat dibuat potongannya lapis demi lapis, paling tipis 0,5 mm, sehingga tumor ukuran kecil sekalipun dapat terdeteksi.

Awalnya aku bingung, kenapa ada tambahan pemeriksaan kembali. Ternyata, saat melihat hasil Mammografi, dokter Radiologi masih ingin memastikan kembali dengan foto melalui ABVS. 
---
Hasil dari Konfirmasi ABVS menunjukkan: Tampak lesi kistik bersepta dengan komponen solid disertai kalsifikasi di bagian perifer pada periareola (jam 11-12) ukuran 1.3 x 0.8 cm jarak dari papila 1.2 cm
Tampak lesi kistik, batas tegas, reguler pada periareola kiri (jam 3-4) ukuran 0.5 x 0.3 cm

Kesan: Lesi noduler dicurigai maligna periareola kanan (BIRADS 4A). Kista simpleks pada periareola kiri (BIRADS 2)

Kesimpulannya, di payudara kanan terdapat Kista kompleks ukuran 1.3 cm x 0.8 cm yang dicurigai maligna/ganas/kanker dengan klasifikasi tingkatan BIRADS 4.

Sedangkan di payudara kiri, ternyata dari hasil ABVS kelihatan juga terdapat 2 buah kista kecil berukuran 0.5 cm namun Jinak (BIRADS 2).


---

Setelah aku memberikan hasil ABVS ke dr. Denni, dokter merujuk untuk dilakukan pemeriksaan thorax PA, USG abdomen atas, dan Bone scanning. 
Di saat itulah aku mengetahui bahwa BIRADS 4  adalah dicurigai ganas. 
Sebagai informasi tambahan, tingkatan hasil pemeriksaan tumor pada payudara itu diklasifikasi menjadi beberapa tingkatan: 

  • BIRADS 0: sulit dinilai
  • BIRADS 1: tidak terdapat tumor
  • BIRADS 2: jinak
  • BIRADS 3: kemungkinan jinak
  • BIRADS 4: curiga ganas
  • BIRADS 5: sangat curiga ganas
  • BIRADS 6: ganas

Hasil dari ABVS lebih mengarah ke ganas (Birads 4), untuk itu dokter menyarankan observasi lanjutan dengan photo Thorax, abdomen, dan bone scanning, untuk memastikan apakah ada penyebaran di sana. 
Di saat inilah, aku cukup terpukul. Namun, suami menguatkanku agar aku jangan memikirkan hal lain selain "yang penting bisa sehat kembali".

Proses observasi ini berjalan sekitar 2 bulan sampai dengan aku mendapat jadwal operasi. Aku membuat janji jadwal untuk photo thorax, USG abdomen, dan Bone scanning di bagian radiologi. 

Selama menjalani observasi sambil memastikan tingkat keganasan kista kompleks yang aku alami, suami menganjurkan aku untuk detoks tubuh dulu dengan makan buah dan sayur aja selama 2 minggu pertama (dimakan gitu aja dan di jus). Lalu setelah minggu ke 3, aku mencoba menambah tempe untuk sumber protein.   

Dalam hal ini, suamikulah yang banyak sekali membantu, mulai dari banyak membaca informasi, belanja buah dan sayur yang aku butuhkan setiap hari, membuatkan air bajakah, menyiapkan sarapan buahku. Bahkan saat harus bolak-balik ke Rumah Sakit dan berangkat subuh hari, dari sebelum subuh suamiku sudah bangun untuk menyiapkan potongan buah, air kunyit, air bajakah, dan jus untuk aku minum dan makan sambil menunggu jadwal konsultasi dokter.



Sayuran dan buah yang aku jus setiap pagi dan malam adalah: buah bit, wortel, nanas, apel/pir, sesekali aku campur sayuran hijau mentah. Jus ini benar-benar setiap hari aku minum. Bahkan 2 x sehari.
Selain buah dan sayur, setiap pagi dan malam aku juga rajin minum air kunyit putih dan Air dari rebusan kayu bajakah yang aku bikin sendiri.







Kunyit putih direndam air panas sampai dingin, lalu diblender, kemudian disaring. Sedangkan untuk air rebusan kayu bajakahnya, direbus aja kayak biasa sampai mendidih dan keluar warna merahnya. Kebetulan ada kerabat yang pernah menderita kanker yang mengirimkan kayu bajakah asli dari Kalimantan. Masya Allah tabarakallah, semoga berkah Allah selalu diimpahkan untuknya. 

Kayu Bajakah dari kalimantan
Air Kayu bajakah yang direbus


  
Kunyit putih

Kunyit putih












Intinya, selama observasi dan menunggu jadwal operasi, beberapa makanan minuman yang dianjurkan asalkan bentuknya alami itu aku cobain. Sebagai catatan, alami itu aku bedain ya sama herbal. Alami yang aku maksud, bahannya belum diolah pabrikan, masih asli. Misalnya kunyit putih yang aku bikin bukanlah kunyit putih bubuk herbal yang sudah dalam kemasan, tapi memang kunyit putih yang dibeli dari pasar, lalu aku bikin sendiri dicampur dengan madu. 
Jus juga begitu, semuanya aku bikin sendiri. 
Dan mulai saat itu pula, aku sudah tidak lagi membeli makanan di luar, tidak mengkonsumsi yang dari pabrik kecuali madu dan garam. Garampun aku ganti dengan garam himalaya. 

Tidak juga menggunakan saos, kecap, gula, bahkan tidak makan nasi sama sekali di satu bulan pertama. Hanya sesekali makan tempe dan dada ayam saja karena rendah lemak. 

Kenapa kok ekstrim banget buuk? Nah, di sini, mentalku harus kuat nih. Karena akan ada orang yang akan mengkritik caraku.
Buat teman-teman yang mengalami seperti aku, dan ingin coba ikhtiar dengan jus, buah, sayur, jamu, dan teh bajakah alami, disiapkan ya mentalnya supaya nggak makin down saat mendengar kritikan dari orang lain. Terus terang, ini nih salah satu yang bikin aku sedikit down juga. Namun aku memilih untuk ikut kata suami, Toh yang aku coba semuanya sehat, dan tidak ada salahnya.

Sebenarnya, bagi pengidap kanker, dokter dan ahli gizi akan menyarankan untuk makan apa aja yang bergizi selama masa pengobatan. Nah, catat yaa.. "Selama masa pengobatan". Masa pengobatan yang dimaksud ini adalah dimulai saat operasi, lalu radiasi, kemudian kemoterapi. Kenapa dianjurkan untuk makan banyak dan tidak ada pantangannya? Karena di saat pengobatan melalui operasi, radiasi dan kemoterapi ini, tubuh akan banyak kehilangan energi, lemas, tidak selera makan, mual, muntah, rambut rontok, dan sebagainya. Begitu pula paska operasi, perlu asupan protein dll untuk menyembuhkan luka operasi.

Namun, ikhtiarku ini kan dilakukan sebelum operasi. Belum ada pengobatan, belum ada obat dari dokter, belum ada tindakan apapun. Dari yang aku dan sumiku baca-baca, sel kanker ini akan cepat berkembang kalau terus diberi makan. Apa aja makanan sel kankel? Nah, dari artikel yang aku baca juga, sel kanker doyan banget lemak dan gula jahat (dari nasi, gula pasir-gula merah), dan satu lagi adalah fikiran. Jadi, aku juga harus terus berfikir positif dan semangat agar tumor tak semakin membasar.

Lalu, bagaimana memenuhi asupan glukosa untuk tubuh, karena sel-sel lain pada tubuh juga butuh gula kan ya. 
Buatku, cukup dari Buah. Toh buah mengandung gula alami yang baik buat tubuh. 
Bagaimana dengan kebutuhan protein? Nah, protein nya aku makan dari tempe dan dada ayam saja. karena dada ayam ini yang bagian rendah lemak. Begitupun, aku tidak sering memakan dada ayam. Hanya seminggu sekali. 

1 bulan setelah mencoba semua ikhtiar makan sehat di atas beserta kunyit putih dan air bajakahnya, aku merasakan benjolan di payudara kanan mulai mengecil. Tidak lagi sejelas dan setegas saat awal aku rasakan. Bahkan, payudara tidak lagi sakit saat menjelang haid. Tentu dong aku jadi semakin semangat makan sehat. Paling tidak, harapanku adalah asalkan si sel kanker tidak menyebar atau semakin besar aja itu udah senang. Nggak sampai berfikir kalau tumor ini akan mengecil.

---
Hasil foto Paru-paru, USG abdomen, dan Bone Scanning akhirnya sudah aku dapatkan. Alhamdulillah, hasilnya tidak tampak penyebaran kanker di paru-paru, abdomen, dan tulang. 
Kemudian, hasil radiologi tersebut aku berikan ke Dokter Denni saat jadwal konsultasi tiba. 

Dokter Denni memberikan beberapa kemungkinan dan kesimpulan. Di saat ini, aku sudah mulai kuat dan ikhlas dengan apapun kasusnya. Dokter Denni mengatakan, untuk lebih memastikan tindakan operasi seperti apa yang dilakukan, aku harus biopsi. 

Nah, ada beberapa cara biopsi. yaitu dengan cara sedot sample melalui jarum, atau biopsi operasi.  Kami meminta saran dokter Denni, yang terbaik yang mana. Dokter Denni menyarankan Biopsi melalui operasi. Biopsi operasi/bedah ini pun ada 2 cara, yaitu hanya mengambil samplenya, atau mengambil seluruh massa tumor beserta jaringan disekitar untuk dibawa ke Lab untuk diperiksa lebih lanjut. 

Untuk kasusku, dokter menyarankan dilakukan biopsi dan tindakan operasi pengangkatan dalam 1 hari itu, yaitu dengan kemungkinan begini:

Kemungkinan pertama: Operasi- lalu angkat keseluruhan tumor dan sedikit jaringan disekitar tumor- lalu dilakukan biopsi kilat di lab saat itu juga- jika hasilnya ganas, maka langsung dilakukan pengangkatan payudara (Mastektomi) --> prosedur operasi sekitar 5 jam-an

Kemungkinan kedua: Jika hasilnya jinak, maka langsung ditutup/dijahit. (Dengan kata lain, hanya mengangkat tumornya saja)

Aku menanyakan pada dokter apakah ada kemungkinan jinak. Dokter mengatakan, kita tetap berdoa semoga jinak, kemungkinan ganas dan jinaknya menurut dokter sekitar 50:50.  Karena hasil dari ABVS berada di BIRADS 4, jika dokter radiologi lebih curiga jinak, pasti disimpulkan BIRADS 3. Tapi ini kan BIRADS 4, lebih ke curiga ganas. Nah, untuk itu perlu dilakukan biopsi untuk memastikan. 

"Menurut saya, seandainya hasilnya ganas, kankernya masih di stadium 1, karena belum menyebar ke yang lain. Ibu jangan sedih, malah harus bersyukur karena diketahui dini. Stadium 1 ini insya Allah 90 % bisa selamat dan sehat. Tapi, walau stadium 1, anjuran saya tetap angkat payudara/mastektomi terlebih posisi tumornya sangat sensitif di dekat areola dan puting. Mau tidak mau harus diangkat semua. Stadium 1 ini belum menyebar kemana-mana. Dan untuk stadium 1, kalau diangkat keseluruhan payudara, ibu tidak perlu lagi menjalani radiasi dan kemoterapi insya Allah. Ibu bisa sehat, bahagia dengan suami dan anak-anak. Yang penting tetap jaga pola hidup sehat. " Kata dokter menjelaskan.

Suami langsung menyetujui. "Iya dokter, langsung diangkat aja semuanya, Dok. Supaya tidak ada lagi sisa-sisanya." 
Aku pun meng-iyakan, dan sudah mulai ikhlas dengan kemungkinan ini. 

Maka disetujuilah dilakukan tindakan operasi tumor, lalu biopsi, dan langsung ambil keputusan diantara 2 kemungkinan ganas atau jinak di hari operasi itu juga.

Selanjutnya, kami menuju ruang edukasi Pre-operasi. Disini aku dijelaskan mengenai prosedur sebelum operasi. Aku diarahkan untuk konsultasi terlebih dahulu ke beberapa dokter. Untuk kasusku, aku diarahkan ke dokter penyakit dalam, anestesi, dan rehabilitasi medis. Sebenarnya ditanya juga apakah aku butuh konsultasi dengan Psikiater. Tapi aku menolak karena insya Allah aku sudah mencoba untuk ikhlas dan kuat dengan berfikir bahwa ini adalah ujianku untuk naik kelas sekaligus semoga menjadi penggugur dosa.


Yang pasti, aku harus bersyukur, karena sudah dipastikan belum ada penyebaran di area lain. Dengan kata lain tumor ini diketahui dan ditangani cepat. Seperti kata dokter, seandainya ganas, insya Allah aku bisa kembali sehat seperti semula karena survival rate ku adalah 90% jika dilakukan mastektomi.




Jujur, aku masih berharap bahwa tumor ini jinak, walaupun aku juga harus tetap mempersiapkan mental juga dengan kemungkinan ganas.

---

Tanggal 27 Desember 2021 aku masuk RS Kanker Dharmais untuk persiapan operasi di tanggal 29 Desember.  Ngapain aja selama 2 hari di Rumah Sakit sebelum jadwal operasi? 
Nah, selama 2 hari aku diambil sampel darah lagi untuk cek lab dan USG mammae lagi satu hari sebelum operasi. Perawat juga observasi keadaanku sebelum operasi, menanyakan sudah berapa banyak minum, berapa kali buang air kecil, memeriksa tekanan darah, kadar oksigen, dan denyut nadi.

Saat USG mammae, aku melihat ukuran tumor di payudara yang terindikasi ganas mengecil menjadi 0.9 x 0.70 cm (tadinya berukuran 1.3 x 0.8 cm).  Begitu juga kista jinak di payudara kiri juga mengecil menjadi 0.4 cm
Alhamdulillah, menurutku setidaknya ikhtiar makan sehat, buah-sayur-jus, air bajakah, kunyit putih dan tak lupa sholat, dzikir, doa, sedekah dapat mengecilkan ukuran tumor di payudaraku (ini adalah keyakinanku setelah melakukan ikhtiar) 

Pagi hari sebelum operasi, dokter Denni mengunjungiku. Menyampaikan bahwa ukuran tumor sudah mengecil, dan beliau berharap semoga saja jinak. Namun, jika hasilnya ganas, dokter tetap menguatkanku bahwa aku harus tetap bersyukur karena belum menyebar dan masih bisa diangkat semua tanpa harus menjalani terapi radiasi dan kemoterapi lagi. 

"Walau terlihat mengecil, kita harus lakukan prosesnya sampai tuntas ya bu, supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari. Prediksi saya, karena melihat tumornya mengecil, semoga saja jinak. Tapi kalau hasil biopsinya ganas, Insya Allah dengan mastektomi, ibu tidak perlu lagi menjalani radiasi dan kemo setelahnya " Kalimat dokter Denni cukup menenangkanku. Disini memang dokter tidak bisa terlalu menjanjikan bahwa kista kompleks di payudaraku adalah jinak, karena memang kista yang ada di payudaraku ini adalah jenis yang dicurigai ganas. Yaitu kista kompleks.

Mama yang datang dari Medan sejak pertama aku masuk RS, beserta suami dan anakku bergantian menciumku dan berdoa sebelum aku masuk ke ruang operasi. 




Selama operasi berlangsung dan sambil menunggu hasil dari biopsi, aku masih dalam keadaan tidak sadar di ruang operasi. Jadi, hasil biopsi akan disampaikan oleh dokter ke keluargaku untuk mengambil keputusan tindakan selanjutnya. 
Aku hanya akan mengetahui hasilnya setelah operasi selesai. 
Kira-kira seperti ini waktunya, Operasi pengangkatan tumor berlangsung 1 jam, lalu tumor yang diangkat ditunjukkan ke keluarga (suami, mama, dan anak), kemudian tumor VC di cek lab (biopsi) kilat selama kurang lebih 1 jam. Dan selama menunggu hasil biopsi, aku masih tidak sadarkan diri di ruang operasi. 

---

Samar-samar aku mendengar suara seorang perawat "Bu .. ibu.. Alhamdulillah jinak ya."
Lalu aku tertidur lagi masih dalam pengaruh obat bius. Aku mengira panggilan itu bagian dari mimpi. 
Ntahlah berapa lama aku kembali sedikit tersadar, mencoba memastikan bahwa tadi aku sempat mendengar suara suster mengatakan jinak, aku memanggil suster di dekatku,

"Suster, hasilnya jinak ya?" Tanyaku pelan karena masih dalam pengaruh obat bius

"Iya Bu, jinak."

Lagi lagi aku kembali tak sadarkan diri.

Akhirnya ntah berapa lama setelah aku benar-benar sadar dan bangun, namun masih ragu dengan suara-suara yang aku ingat sebelumnya. Aku kembali memanggil suster.

"Suster, tadi suster ada bilang ke saya ya kalo tumornya jinak?' Tanyaku pelan sambil berharap bahwa tadi bukanlah mimpiku saat tidak sadar.

"Iya bu, tadi ibu udah tanya. Tumornya jinak ya bu. Alhamdulillah."

"Alhamdulillah .. alhamdulillah.. alhamdulillah.. Allahu Akbar" Aku mengucap syukur dalam tangis dan masih terasa pengaruh obat bius yang masih membuatku lemah terbaring di ruang transit setelah operasi.

Suster mulai mempersiapkan perpindahanku ke kamar sambil memanggil suami, mama, dan anakku. Suami, mama, dan anakku yang sudah tau hasilnya lebih dulu, langsung menciumiku saat aku dibawa keluar dari ruang transit paska operasi.

---

Allah .. hanya Allah maha penyembuh, maha penolong, maha penentu. Aku hanya mampu berusaha, dibantu doa dari keluarga dan teman, juga ikhtiar yang aku dan suami lakukan selama 2 bulan ini, akhirnya Allah berikan hasil yang membuat aku semakin sadar dengan kebesaran Allah. Semakin sadar dengan kekuatan doa dan ikhtiar.

Disaat aku sudah ikhlas dan menguatkan diri untuk mastektomi/pengangkatan payudara, Allah memberikan hasil yang membuatku lebih bahagia dan bersyukur.

Selain ikhtiar dengan makan sehat, kunyit putih, air bajakah, jus buah-sayur, makan buah, mengurangi makan lemak, tidak gula, mengurangi nasi, mengganti minyak, mengganti garam, tidak pengawet, tidak olahan, dan lain-lain .... 
yang paling penting juga adalah jangan lupa kencangkan Doa, dzikir, sholat malam, baca qur'an, juga sedekah. 


Aku merasa, insya Allah melalui semua kombinasi ikhtiar diataslah kemudian membuat tumor di payudaraku mengecil yang kemudian Allah takdirkan menjadi jinak.

---
Walau hasil biopsi saat operasi sudah ditentukan jinak, namun aku tetap masih menunggu hasil PA untuk lebih memastikan bahwa tumor ini benar-benar jinak. Insya Allah hasil PA akan keluar dalam waktu 7 hari setelah biopsi.

Lalu, bagaimana dengan kista kecil yang ada di payudara kiriku. Menurut dokter Denni dan memang dari banyak artikel yang aku baca, jenis kista biasa yang ukurannya sangat kecil tidak perlu dioperasi, karena sifatnya jinak dan hanya berisi cairan. Nantinya dapat mengecil dan hilang dengan sendirinya dengan pola hidup sehat.

Note: penting banget buat kita untuk selalu melakukan pengecekan payudara, terlebih bagi yang sudah mulai berumur 35 tahun ke atas. Pemeriksaan bisa dilakukan dengan USG Mammae atau langsung Mammografi. 
Pemeriksaan yang dilakukan semakin dini, akan semakin membuka peluang penyembuhan lebih besar. 
Selama 2 bulan aku bolak-balik RS Dharmais, yang mana rata-rata pasien yang datang adalah pengidap berbagai macam kanker, terutama kanker payudara, aku jadi sering mendapatkan cerita dan pengalaman mereka selama menjalani proses pengobatan. 
Dan kebanyakan tidak menyadari bahwa sudah ada kanker yang sudah berkembang di payudara. 





4 Komentar

  1. Baarakallahu fiik uni, semoga tetap dlm lindungan Allah dan segera pulih dr segala macam penyakit. Alhamdulillah terimakasih jg utk tulisannya yg sangat mengedukasi. Semoga bermanfaat bwt byk org. Aamiin Allahumma Aamiin. Sehat trs ya uni ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin aamiin ya Allah.

      Sama-sama nuril.

      Barakallahu fiikum juga buat nuril dan keluarga beserta fadlan, una, zahiroh dan semua ponakan uni. Semoga dijauhkan dari segala penyakit.

      Aamiin ya Alllah

      Hapus
  2. Alhamdulillah, ternyata jinak ya, mbak... Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Allah kasih ujian gak akan melebihi kemampuan hambaNya. Semoga sehat selalu ya, mbak fida...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Laa hawla wa laa quwwata illa billah

      Alhamdulillah...
      Aamiin ya Allah... Terumma kasih ummu umar. Ini mbak annisa ya?

      Hapus